Kamis, 17 Januari 2013

Standarisasi Larutan



LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
KIMIA DASAR










DISUSUN OLEH:
Nama               : Andy Prasetyo
N.I.M              : 10 /13439 /BP
Kelas               : BP (Antan) golongan Antan I
Acara               : IV(Standarisasi Larutan)
Jurusan            : Budidaya Pertanian
Co. Ass           :


ANEKA TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN, JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2010
 I.            ACARA            : Standarisasi Larutan
 II.         TUJUAN          :
1.      Agar dapat menstandarisasikan suatu larutan dengan benar.
2.      Menstarisasikan suatu larutan dengan larutan yang mempunyai sifat berlawanan dengan baik dan benar.
 III.      DASAR TEORI
 Kosentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut dalam suatu larutan. Apabila zat terlarut banyak sekali, sedangkan pelarutnya sedikit, maka dapat dikatakan bahwa larutan itu pekat atau kosentrasinya sangat tinggi. Sebaliknya bila zat yang terlarut sedikit sedangkan pelarutrnya sangat banyak, maka dapat dikatakan larutan itu encer atau kosentrasinya sangat rendah. Banyak cara untuk memeriksa kosentrasi larutan, yang semuanya menyatakan kuantitas zat terlarut dalam kuantitas pelarut (atau larutan). Dengan demikian, setiap sistem kosentrasi harus menyatakan butir-butir berikut :
1.      Satuan yang digunakan untuk zat terlarut
2.       Kuantitas kedua dapat berupa pelarut atau larutan keseluruhan.
3.       Satuan yang digunakan untuk kuantitas kedua.
(Kimia Dasar Jilid 2. Ralp H. Petrucci)
Kosentrasi dapat dinyatakan dengan beberapa cara yaitu :
a. Persen Volum
Persen volum menyatakan jumlah liter zat terlarut dalam 100 liter
larutan misalnya :
Alkohol 76% berarti dalam 100 liter larutan alkohol terdapat 76 liter
alkohol murni.
b. Persen Massa
Persen Massa menyatakan jumlah gram zat terlarut dalam 100
gram larutan contohnya :
Sirup merupakan larutan gula 80% artinya dalam 100 gram sirup
terdapat 80 gram gula.
Skala konsentrasi molar dan normalitas sangat bermanfaat untuk. Eksperimen volumetri dimana kuantitas zat terlarut dalam larutan dengan volume bagian larutan itu. Skala normalitas sangat menolong dalam membandingkan volume dua larutan yang diperlukan untuk bereaksi secara kimia. Keterbatasana skala normalitas adalah bahwa suatu larutan mungkin mempunyai lebih dari satu nilai normalitas, bergantung pada reaksi yang menggunakannya. Kosentrasi molar larutan sebaliknya merupakan suatu bil tetap karena bobot molekul zat itu tidak bergantung pada reaksi yang menggunakannya.
Skala fraksi mol sangat berguna dalam karya-karya teoritas karena banyak sifat-sifat fisika larutan dapat dinyatakan dengan lebih jelas dalam perbandingan jumlah molekul pelarut dan zat terlarut. (Kimia Dasar E.G jerame L. Rossenberg) Kimia volumetri yaitu pembuatan larutan baku. Zat murni di timbang dengan teliti, kemudian di larutkan dalam laba ukur sampai volume tertentu dengan tepat. Dimana normalitasnya diperoleh dengan perhitungan larutan-larutan baku primer yaitu Natnium Oksalat, kalium Bikromat, barak, Natrium Karbonat, kalium Iadida.
Zat-zat kimia yang dipakai untuk membuat larutan harus memenuhi syarat.
1. Zat yang digunakan harus murni dan mempunyai rumus molekul yang pasti.
2. Zat yang digunakan harus mempunyai berat ekuivalen yang pasti.
3. Zat yang digunakan mudah di keringkan.
4. Stabil dimana larutan baku primer dapat dipakai untuk menentukan
kadar larutan yang tidak diketahui.

 IV.      ALAT DAN BAHAN
A.    Alat
1.   Timbangan analisis
2.   Gelas beker 250 ml
3.   Pengaduk spatula
4.   Gelas arloji
B.     Bahan
1.   NaOH
2.   Aquades
3.   Indicator PP
4.   Asam oksalat
5.   Indicator PH


 V.            CARA KERJA
1.      Di ambil aquades sebanyak 20 ml dan mengunakan gelas ukur supaya pas
2.      Di  masukan asam oksalat seperlunya dan aquades sebanyak 20 ml kedalam erlemeyer dan asam oksalat sebanyak 0,1006 gr
3.       Di pasang pada alat statif setelah keran buret di tutup masukan larutan NaOH yang akan di standarisasikan dengan sekala 0
4.      Di pindahkan asam oksalat ke dalam gelas beker 250 ml dengan bantuan spatula atau gelas pengaduk.
5.      Di bilas gelas arloji dengan aquades,
6.      Di masukan ke dalam gelas beker dan di tambah air sesuai dengan air sesuai dengan perhitungan
7.      Di gunakan alat spatula dalam membantu melarutkan asam oksalat di dalm gelas beker
8.      Di standarisasi larutan NaOH denan asam oksalat, gunakan asam oksalat murni C2H2O4
9.      Di timbang dengan teliti seperti NaOH di atas sebanyak 0,1, menggunakan gelas arloji
10.  Di masukan kedalam erlemeyer larutan dengan aquades 25 ml.
11.  Di gelas arloji di bilas dengan aquades .tambahkan 2-3 tetes indicator PP
12.  Buret yang bersih dan kering volume 50 ml di pasang tegak pada statif. Setelah keran buret di tutup,masukan larutan NaOH yang akan di standarkan mengunakan bantuan corong
13.  Di isi penuh tepat pada suatu angka ,sebaiknya angka 0 .Titrasi asam oksalat dalam erlemeyer dengan NaOH dari buret secara pelan-pelan.jika timbul perubahan warna merah yang tidak hilang salam waktu 5 detik.

 VI.            HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada saat titrasi di lakukan untuk mencapai titik eukovalen ternyata membuuhkan 11 NaOH. Pada titik ini terjadi perubahan warna pada asam oksalat di dalam erlemeyer yaitu warna ungu.
Pada rangkaia percobaan sebagai berikut :
Gambar
Keterangan

1.      Larutan NaOH pada sekala 0
2.      Larutan asam oksalat yang tidak berwarna

1.      Larutan NaOH yang berukuran 11 ml
2.      Larutan asam oksalat yang berubah menjadi warna unggu
Untuk perhitungan dari hasil standarisasi normalitas larutan.
Dik : Masa asam oksalat = 0,1003
Larutan NaOH Yang di butuhkan = 11 ml
Dit= normalitas larutan NaOH?
Jawab ;

=
= 0,41445 N
Jadi pada penggunaan 0,1003 gr asam oksalat yang di perlukan 11 ml NaOH, untuk titrasi sehingga warna asam oksalat berubah menjadi ungu setelah melalui perhitungan, normalitas yang di dapat adalah 0,1445 N.

 VII.         KESIMPULAN
1.      Standarisasi larutan yaitu di gunakan untuk mengetahui besar normalitas suatu larutan dengan larutan yang lain
2.      Pengisian pada buret sampai skala 0
3.      Rumus normalitas yaitu
4.      Pada penggunaan 0,1003 gr asam oksalat yang di perlukan adalah 11 NaOH
5.      Aam oksalat berubah menjadi ungu ketika di campur dengan NaOH

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar